Naik bus sudah menjadi bagian dari perjalanan sehari-hari masyarakat di Indonesia. Penumpang naik, mencari tempat duduk, lalu menghabiskan waktu hingga bus tiba di tujuan. Ada yang sibuk dengan ponsel, berbincang dengan teman, membaca, atau bahkan tidur.
Karena sudah menjadi hal yang biasa, keselamatan terkadang baru terpikir ketika terjadi sesuatu. Padahal, perjalanan yang aman tidak hanya ditentukan oleh kondisi bus. Apa yang dilakukan dan terjadi di dalam bus juga dapat memengaruhi keselamatan penumpang.
Sebelum beroperasi, bus harus memenuhi persyaratan keselamatan. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melakukan pengawasan dan pemeriksaan kelaikan kendaraan atau rampcheck untuk memastikan bus yang akan melayani masyarakat memenuhi ketentuan yang berlaku.
Setelah bus berangkat, perhatian terhadap keselamatan berlanjut di dalam kendaraan. Bus yang bergerak, penumpang yang berada di dalamnya, serta berbagai aktivitas selama perjalanan saling berkaitan.
Ketika Bus Melaju
Perubahan gerakan bus dapat langsung dirasakan penumpang. Saat bus mengerem atau berbelok, tubuh bisa terdorong ke depan atau ke samping. Bagi penumpang yang berdiri, gerakan tersebut dapat membuat keseimbangan lebih mudah hilang.
Karena itu, posisi penumpang perlu disesuaikan dengan kondisi perjalanan. Penumpang yang duduk sebaiknya tetap berada di tempat duduk selama bus berjalan. Sementara itu, penumpang yang berdiri dapat menggunakan pegangan yang tersedia. Hal yang sama berlaku untuk barang bawaan. Lorong dan area pintu harus tetap dapat digunakan untuk bisa dilewati penumpang. Barang yang diletakkan di sana dapat menghambat pergerakan penumpang, terutama ketika bus harus berhenti mendadak atau penumpang perlu segera keluar.
Di Balik Kemudi
Saat perjalanan, pengemudi terus memperhatikan jalan. Kondisi lalu lintas dapat berubah setiap saat, sehingga pengemudi membutuhkan konsentrasi untuk mengendalikan bus dan merespons keadaan di depannya.
Kondisi di dalam bus juga dapat memengaruhi konsentrasi tersebut. Penumpang tetap dapat berbicara atau menggunakan ponsel, tetapi aktivitas di dalam kendaraan sebaiknya tidak sampai mengganggu pengemudi. Jika membutuhkan bantuan, penumpang dapat menyampaikannya kepada awak bus apabila tersedia.
Dengan begitu, pengemudi dapat tetap fokus pada jalan, sementara kebutuhan penumpang tetap dapat ditangani.
Kalau Terjadi Sesuatu
Keadaan darurat dapat mengubah situasi di dalam bus dengan cepat. Fasilitas yang biasanya hanya terlihat sebagai bagian dari kendaraan, seperti pintu darurat, palu pemecah kaca, alat pemadam api ringan (APAR), dan petunjuk keselamatan, dapat menjadi penting dalam kondisi tersebut.
Mengetahui letak fasilitas keselamatan sejak awal perjalanan dapat membantu penumpang ketika harus bertindak dengan cepat. Jika terjadi keadaan darurat, penumpang perlu memperhatikan arahan pengemudi atau awak bus dan penting bagi penumpang untuk menggunakan jalur keluar yang tersedia dengan tertib.
Penumpang juga perlu memberi ruang bagi orang lain untuk keluar. Tidak saling mendorong atau berebut sehingga dapat membantu proses evakuasi berjalan lebih lancar.
Keselamatan perjalanan bus memang dimulai dari kendaraan yang laik dan pengemudi yang mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan dalam kondisi prima. Namun keselamatan tidak berhenti sampai di sana. Setelah bus berjalan, kondisi di dalam kendaraan juga menjadi tanggung jawab semua orang yang berada di dalamnya.
Penumpang tidak perlu mengambil alih tugas pengemudi atau melakukan hal-hal khusus. Cukup dengan menjaga diri tetap aman, tidak menghalangi ruang gerak, dan tidak mengganggu pengemudi, penumpang sudah ikut menjaga kondisi perjalanan.
Satu bus membawa banyak orang dengan tujuan yang sama. Perjalanan yang aman bukan hanya hasil dari kendaraan yang laik atau pengemudi yang berhati-hati, melainkan juga dari penumpang yang tahu bagaimana menjaga dirinya dan orang lain selama berada di dalam bus.